Just another WordPress.com site

UNSUR – UNSUR DESAIN DAN PRINSIP DESAIN v   UNSUR – UNSUR DESAIN Dalam Pembuatan sebuah desain kita perlu memperhatikan bentuk desain yang diinginkan. Tentunya supaya desain Anda dapat dilihat bagus (sesuai maksud dan tujuan Anda membuatnya),maka unsur-unsur pembuatan desain yang perlu diperhatikan 1.      Garis (Line) Sebuah garis adalah unsur desain yang menghubungkan antara satu titik […]

SUARA KAMI DARI RANTAU

Belum Adanya Kesadaran Pemerintah Terhadap Potensi Wisata Pantai Di Kabupaten Lembata

Oleh:

Richardus Betekeneng

 

Pada abad sekarang untuk peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) perlu adanya pemanfaatan segala potensi sumber daya yang ada pada setiap daerah diseluruh dunia, baik itu sumber daya manusia(SDM) maupun sumber daya alam (SDA). Sektor pariwisata merupakan penyumbang devisa negara yang cukup besar dan merupakan salah satu pendapatan andalan sektor non migas. Kebijakan pembangunan nasional menggariskan bahwa pengembangan sektor pariwisata harus lebih ditingkatkan seiring dengan meningkatnya industri pariwisata secara umum. Unsur yang paling penting dalam pengembangan kepariwisataan adalah pengembangan obyek wisata yang sesuai dengan keinginan atau preferensi dari para wisatawan dan dilakukan dengan melihat semua potensi dan permasalahan yang ada di lingkungan internal maupun eksternal.

Pelaksanaan otonomi daerah secara bertahap mengakibatkan pemerintah daerah berupaya keras memanfaatkan semua potensi wilayah yang dapat meningkatkan pendapatan asli Daerah (PAD). Kabupaten Lembata yang mempunyai beberapa kawasan wisata pantai berupaya meningkatkan potensi baik dari segi kuantitas maupun kualitas agar dapat berperanan dalam meningkatkan pendapatan asli daerah dan pemerataan pendapatan masyarakat yang menempati  disekitar obyek wisata.

Kawasan wisata merupakan kawasan yang memungkinkan manusia untuk berkumpul dan melakukan berbagai aktifitas. Konsep keberadaanya merupakan perpaduan antara potensi keindahan alamiah dan campur tangan manusia melalui pemikiran kreatif, lebih mengutamakan fungsi dan estetika sehingga tercapai tujuan ditinjau dari aspek sosial, ekonomi dan pendidikan serta kondisi ekosistem yang berkelanjutan (Sustuinable).

Wisata pantai misalnya adalah wisata yang sangat populer di kabupaten lembata, dimana masyarakat lembata sebagian besar cendrung menghabiskan liburannya dengan berpiknik ke pantai. Kabupaten lembata memiliki banyak potensi wisata pantai, diantaranya pantai pedan, pantai bean, pantai apo wewalelen, pantai pasir putih mingar, pantai waijarang, pantai SGB bungsu, pantai tanah treket dan pulau siput awelolong, namun keberadaan pantai ini seolah-olah tidak mempunyai pemilik yang dapat mengelola dan merawatnya, ini dikarenakan pemda kabupaten lembata selaku pemilik dari pantai-pantai tersebut diatas seolah menutup mata, Sedangkan kabupaten lembata sendiri sudah berusia beranjak dewasa, namun belum ada satupun potensi wisata yang dikelola pemerintah memiliki pengaruh dikanca nasional maupun internasional.

Berlatar belakang masalah ini, maka dapat dinilai bahwa pemerintah kabupaten lembata belum mempunyai kesadaran akan pentingnya potensi wisata pantai, dilihat dari potensi pantai-pantai di kabupaten lembata memiliki keindahan dan keunikan tersendiri. Pantai pedan misalnya memiliki keindahan pasir putih, memiliki laut yang jernih dan dangkal yang didalam terdapat berbagai jenis ikan hias dan keindahan koral, juga terdapat hutan bakau yang menjadi keunikan dari pantai pedan tersebut.

Oleh karena itu pemerintah perlu lebih sensitf lagi dengan potensi-potensi sumber daya manusia(SDM) maupun sumber daya alam (SDA) yang ada pada kabupaten lembata, terutama potensi wisata pantai karena selain dapat meningkatkan PAD juga dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat setempat.

 

Malang : 15-januari-2012

Sedih Le…………………….. Kapan Majunya Lembata ni…………?????

Wawasan Arsitektur

Terminologi
Arsitektur menurut kamus Oxford : art and science of building; design or style of building(s). adalah seni dan ilmu dalam merancang bangunan. Pengertian ini bisa lebih luas lagi, arsitektur melingkupi semua proses analisa dan perencanaan semua kebutuhan fisik bangunan,namun dalam bahasan situs ini,penulis membatasi pada pengorganisasian perancangan bangunan, mulai dari level makro yaitu perencanaan kota, perancangan perkotaan, arsitektur lansekap, hingga ke level mikro yaitu rancang interior / eksterior, rancang asesoris dan pernik-pernik produk pelengkap. Arsitektur juga merujuk kepada hasil-hasil proses perancangan tersebut.
Kriteria dan Batasan
Pameo mengatakan: Architecture is silent language. Arsitektur merupakan bahasa yang tidak terucapkan ,namun dapat dimengerti para pemakainya

Buku De Architectura merupakan karya tulis rujukan paling tua yang ditulis Vitruvius, dalam buku itu diungkapkan bahwa bangunan yang baik haruslah memiliki aspek:

  • Keindahan / Estetika (Venusitas)
  • Kekuatan (Firmitas)
  • Kegunaan / Fungsi (Utilitas);

Arsitektur adalah penyeimbang dan pengatur antara ketiga unsur tersebut, dimana semua aspek memiliki porsi yang sama sehingga tidak boleh ada satu unsur yang melebihi unsur lainnya. Dalam definisi modern, arsitektur harus mencakup pertimbangan fungsi, estetika, dan psikologis. Namun, dapat dikatakan pula bahwa unsur fungsi itu sendiri di dalamnya sudah mencakup baik unsur estetika maupun psikologis.

Arsitektur adalah bidang multi-disiplin ilmu, termasuk di dalamnya adalah matematika, sains, seni, teknologi, humaniora, ekonomi,sosial,politik, sejarah, filsafat, dan sebagainya. Diperlukan kemampuan untuk menyerap berbagai disiplin ilmu ini dan mengaplikasikannya dalam suatu sistematika yang integral.
Vitruvius menyatakan, “Arsitektur adalah ilmu yang timbul dari ilmu-ilmu lainnya, dan dilengkapi dengan proses belajar: dibantu dengan penilaian terhadap karya tersebut sebagai karya seni”. Ia pun menekankan perlunya seorang arsitek memahami sosial,kedokteran,hukum,ekonomi,filsafat, dsb. Filsafat adalah salah satu yang utama di dalam pendekatan arsitektur. Rasionalisme, empirisisme, strukturalisme, post-strukturalisme, dan fenomenologi adalah beberapa pengaruh filsafat terhadap arsitektur.

Teori dan Praktek
Teori sangatlah penting untuk menjadi landasan acuan, walaupun juga tidak boleh mendominasi secara ekstrim. Kenyataanya, banyak arsitek mengabaikan teori dalam perencanaan dan perancangan. Vitruvius juga berkomentar:

“Praktek dan teori adalah akar arsitektur. Praktek pelaksanaan sebuah proyek atau pengerjaannya yang didapatkan dalam proses perenungan, dalam proses mendayagunakan bahan bangunan dengan cara yang terbaik. Teori adalah hasil pemikiran beralasan yang menjelaskan proses konversi bahan bangunan menjadi hasil akhir sebagai jawaban terhadap suatu persoalan. Seorang arsitek yang tidak memiliki landasan teori kuat tidak akan dapat menjelaskan alasan dan dasar mengenai bentuk-bentuk yang dia pilih. Sementara arsitek yang berteori tanpa berpraktek hanya berpegang kepada “imajinasi” dan bukannya substansi. Seorang arsitek yang berpegang pada teori dan praktek, ia memiliki senjata ganda. Ia dapat membuktikan kebenaran hasil rancangannya dan juga dapat mewujudkannya dalam pelaksanaan”.

Sejarah

Arsitektur terbentuk karena adanya kebutuhan (kebutuhan kondisi lingkungan yang kondusif, keamanan, dsb), dan kebutuhan ini menuntut perlakuan/cara menyikapi obyek(bahan bangunan yang tersedia dan teknologi konstruksi). Arsitektur prasejarah dan primitif merupakan tahap awal dinamika ini. Kemudian manusia menjadi lebih maju dan pengetahuan mulai terbentuk melalui tradisi lisan dan praktek-praktek, arsitektur berkembang menjadi ketrampilan. Pada tahap ini lah terdapat proses uji coba, improvisasi, atau peniruan sehingga menjadi hasil yang sukses. Seorang arsitek saat itu bukanlah seorang figur penting, ia semata-mata melanjutkan tradisi. Arsitektur Vernakular lahir dari pendekatan yang demikian sampai sekarang masih diterapkan di banyak tempat di dunia.

Permukiman manusia di masa lalu pada dasarnya bersifat rural. Masyarakat lebih banyak terkonsentrasi di daerah pedesaan dan didominasi pola hidup pertanian.Kemudian timbullah surplus produksi, sehingga masyarakat rural berkembang menjadi masyarakat urban.

Tuntutan kebutuhan masyarakat akan bangunan dan tipologinya pun meningkat. Teknologi pembangunan fasilitas umum seperti jalan dan jembatan pun berkembang. Tipologi bangunan baru seperti sekolah, rumah sakit, dan sarana rekreasi pun bermunculan. Arsitektur Religius tetap menjadi bagian penting di dalam masyarakat. Gaya-gaya arsitektur berkembang, dan karya tulis mengenai arsitektur mulai bermunculan. Karya-karya tulis tersebut menjadi kumpulan aturan (kanon) untuk diikuti khususnya dalam pembangunan arsitektur religius. Contoh kanon ini antara lain adalah karya-karya tulis oleh Vitruvius, atau Vaastu Shastra dari India purba. Di periode Klasik dan Abad Pertengahan Eropa, bangunan bukanlah hasil karya arsitek-arsitek perorangan, melainkan oleh para seniman/ ahli keterampilan bangunan yang dihimpun dalam satu asosiasi untuk mengorganisasi proyek.

Pada masa Renaissance (pencerahan), humaniora dan penekanan terhadap individual menjadi lebih penting daripada agama, dan menjadi awal yang baru dalam arsitektur. Pembangunan ditugaskan kepada arsitek-arsitek individual – Michaelangelo, Brunelleschi, Leonardo da Vinci – dan kultus individu pun dimulai. Namun pada saat itu, tidak ada pembagian tugas yang jelas antara seniman, arsitek, maupun insinyur atau bidang-bidang kerja lain yang berhubungan. Pada tahap ini, seorang seniman pun dapat merancang jembatan karena penghitungan struktur di dalamnya masih bersifat umum.

Perkembangan jaman yang diikuti revolusi berbagai bidang ilmu (misalnya engineering), dan penemuan bahan-bahan bangunan baru serta teknologi, menuntut para arsitek untuk mengadaptasi fokus dari aspek teknis bangunan kepada estetika (keindahan bentuk).

Kemudian dikenal istilah “arsitek aristokratik” yang lebih suka melayani bouwheer (owner/Client) yang kaya dan berkonsentrasi pada unsur visual dalam bentuk yang merujuk pada contoh-contoh historis. Contohnya, Ecole des Beaux Arts di Prancis pada abad 19 mengkader calon-calon arsitek menciptakan sketsa-sketsa dan gambar cantik tanpa mengiraukan konsep yang kontekstual.

Sementara itu, Revolusi Industri menggerakkan perubahan yang sangat drastis yang membuka diri bagi masyarakat luas, sehingga estetika dapat dinikmati oleh masyarakat kelas menengah. Dulunya produk-produk berornamen estetis terbatas dalam lingkup keterampilan yang mewah, menjadi terjangkau melalui produksi massal. Produk-produk sedemikian tidaklah memiliki keindahan dan kejujuran dalam ekspresi dari sebuah proses produksi.

Keadaan tersebut menimbulkan perlawanan dari seniman maupun arsitek pada awal abad ke-20, yang melahirkan pemikiran-pemikiran yang mengilhami Arsitektur Modern, antara lain, Deutscher Werkbund (dibentuk 1907) yang memproduksi bahan-bahan bangunan buatan mesin dengan kualitas yang lebih baik merupakan titik lahirnya profesi dalam bidang desain industri. Setelah itu, sekolah Bauhaus (dibentuk di Jerman tahun 1919) menafikan sejarah masa lalu dan cenderung menempatkan arsitektur sebagai perpaduan skill ,seni, dan teknologi.
Ketika Arsitektur Modern mulai dikembangkan, ia merupakan sebuah elit terkemuka berlandaskan filosofis,moral, dan estetis. Konsep perencanaan kurang mengindahkan sejarah dan condong kepada fungsi yang melahirkan bentuk. Peran Arsitek menjadi sangat penting dan dianggap sebagai “kepala/pimpinan”. Kemudian arsitektur modern masuk ke dalam lingkup produksi massal yang sederhana dan relatif murah sehingga mudah diperoleh.

Dampaknya, bangunan di berbagai tempat memiliki bentuk yang mirip/cenderung tipikal. Tidak ada ciri khas ataupun keunikan bangunan Arsitektur Modern ini, masyarakat umum mulai jenuh menerima arsitektur modern pada tahun 1960-an, antara lain karena kekurangan makna, kemandulan,keseragaman, serta kesan-kesan psikologisnya. Sebagian arsitek berusaha menghilangkan kesan buruk ini dengan menampilkan Arsitektur Post-Modern yang membentuk arsitektur yang lebih dapat diterima umum pada tingkat visual, meski dengan mengabaikan konsepnya.

Arsitektur Post Modern ini lebih dikenal sebagai arsitektur yang “mengawinkan” dua code/langgam/style. Misalnya, antara yang antik dan modern, antara maskulin (bangunan dengan struktur lebih dominan) dan feminin (kecantikan eksterior dominan ), antara western dengan timur, yang kuno dengan yang baru ,dll.

Sedangkan kalangan lain baik arsitek maupun non-arsitek menjawab dengan menunjukkan apa yang mereka pikir sebagai akar masalahnya. Mereka merasa bahwa arsitektur bukanlah perburuan filosofi atau estetika secara perorangan, melainkan haruslah mempertimbangkan kebutuhan manusia sehari-hari dan mengunakan teknologi untuk mewujudkan lingkungan yang dapat dihuni. Design Methodology Movement yang melibatkan tokoh-tokoh Chris Jones atau Christopher Alexander mulai mencari proses yang lebih terbuka dalam perancangan, untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Analisa terperinci dalam berbagai bidang seperti behaviour,habitat, environment, dan humaniora dilakukan untuk menjadi dasar proses perancangan.Mereka berharap bahwa arsitektur merupakan bahasa yang komprehensif untuk menjadi media antara kebutuhan dan pelaksanaan proyek.
Bersamaan dengan meningkatnya kompleksitas bangunan,arsitektur menjadi lebih multi-disiplin daripada sebelumnya. Arsitektur sekarang ini membutuhkan sekumpulan profesional dalam pengerjaannya. Namun demikian, arsitek individu masih disukai dan dicari dalam perancangan bangunan yang bermakna simbol budaya. Contohnya, di kota Semarang, karya Thomas Kaarsten ,arsitek peranakan jawa-belanda banyak mendominasi bangunan Belanda di Semarang.

Kesimpulan

Bangunan adalah hasil karya manusia yang paling nyata, dan merupakan kebutuhan utama manusia. Tetapi kenyataannya, banyak sekali bangunan masih dirancang oleh masyarakat sendiri atau mandor-tukang batu di negara-negara berkembang, sedang di negara maju diproduksi secara “massal” sebagai produk tipikal seperti orang memproduksi baju.

Arsitek sering disisihkan dalam pembangunan, hanya karena masalah biaya dan prosedural. Keahlian arsitek hanya dibutuhkan dalam pembangunan bangunan berskala besar, atau bangunan yang memiliki makna ekonomi/ budaya / politis yang penting. Dan inilah yang diterima oleh masyarakat umum sebagai arsitektur,sedangkan bangunan lain, yang dianggap sederhana ataupun berskala kecil mungkin cukup dirancang oleh mandor-mandor yang mendapatkan ilmunya dari proses pengalaman empirikal di lapangan. Peran arsitek, selalu turun-naik mengikuti perkembangan jaman, tidak pernah mendominasi dan tidak pernah terlepas dari masyarakat sebagai pribadi bebas. Selalu akan ada dialog antara masyarakat dengan arsitek antara owner dengan arsitek, dan antara arsitek dengan bidang terkait lainnya.Dan hasilnya adalah sebuah output yang disebut arsitektur, sebagai sebuah produk dan sebuah disiplin ilmu yang solid.

Sumber pustaka: Oxford Advanced Learner’s Dictionary,De Architectura ,Vitruvius ; Concept Source Book by Robert T.White

dll

Sumber :

http://archipeddy.com/ess/term_ars.html

27 September 2009

Sumber Gambar :

http://www.essential-architecture.com/

 PERANAN VEGETASI DALAM LANSKAP

 

 

 

 

 

OLEH:

RICHARDUS BETEKENENG

2005320014

 

 

 

JURUSAN ARSITEKTUR LANSKAP

FAKULTAS PERTANIAN DAN SUMBER DAYA

UNIVERSITAS TRIBHUANA TUNGGADEWI

MALANG

2009

PERANAN VEGETASI  DALAM LANSKAP

 

Perletakan Tanaman

Untuk perletakan tanaman harus disesuaikan dengan tujuan perencanaan tanpa melupakan fungsi tanaman yang dipilih. Pada tahap ini harus dipertimbangkan “kesatuan dalam design” (unity), antara lain:

  1. Variasi/Variety.
  2. Penekanan/Accent.
  3. Keseimbangan/Balance.
  4. Kesederhanaan/Simplicity.
  5. Urutan/Sequences.

Vegetasi dapat disusun menjadi:

  1. Taman.
    1. Tempat berenang.
    2. Memberi tirai pemandangan.
    3. Menahan angina.
    4. Memberi bayangan.

Pemilihan jenis tanaman maupun cara pengaturan penanamannya harus mengikuti rencana penanaman yang disusun untuk memenuhi fungsi serta estetikanya. Apabila pola pengelompokan serta susunan jenis tanaman, ukuran, bentuk, tekstur, dan warnanya masing-masing telah diketahui dengan baik maka perencana dapat menyusun sendiri tata tanamnya berdasarkan satu atau beberapa sifat tanaman- tanaman tersebut.

Fungsi Vegetasi:

  1. Vegetasi untuk complimentory architecture.
    Kumpulan pepohonan ini dapat memberikan sesuatu yang lebih indah dan lebih memberi arti yang lebih monumental bagi bangunan yang ada.
  2. Vegetasi untuk soften line.
    Kehadiran banyak jenis pohon dengan ukuran yang tidak sama akan memberikan kesan yang lebih lunak dan nyaman. Pola perumahan yang lurus akan terkesan lembut apabila di sekitarnya tedapat pohon.
  3. Vegetasi untuk unity
    Suatu kawasan pemukiman atau perumahan yang mempunyai pola terpencar-pencar dan menempati suatu areal yang luas akan terasa lebih menyatu apabila ditanami pohon. Beberapa pohon yang tingginya tidak sama akan dapat memberikan kesan sebagai pemersatu antar bangunan.
  4. Vegetasi untuk creating shadow
    Kadang-kadang suatu kawasan yang sangat luas memiliki jalan masuk yang panjang. Jalan masuk ini akan terkesan teduh apabila ditanami pohon-pohon yang bertajuk rapat.
  5. Vegetasi dapat berfungsi sebagai penyerap karbondioksida dan mengubahnya menjadi O2.
  6. Vegetasi berfungsi sebagai pelindung bagi tanah sehingga mencegah terjadinya kerusakan tanah.

VEGETASI SEBAGAI ESTETIS

Nilai estetika dari taman diperoleh dari perpaduan antar warna (daun,batang dan bunga)bentuk fisik tanaman (batang,percabangan dan tajuk), tekstur tanaman, skala tanaman dan komen posisi tanaman. Nilai estetika tanaman dapat diperoleh dari satu tanaman, sekelompok tanaman yang sejenis., kombinasi berbagai jenis tanaman ataupun kombinasi antara tanaman dengan landsekap lainnya. 

Fungsi Estetika:

Memberikan nilai estetika dan meningkatkan kualitas lingkungan. Nilai estetika dari tanaman diperoleh dari perpaduan antara warna (daun,batang dan bunga), bentuk fisik tanaman (batang,percabangan dan tajuk), tekstur tanaman, skala tanaman dan komposisi tanaman. Nilai estetis dari tanaman dapat diperoleh dari satu tanaman, sekelompok tanaman yang sejenis, kombinasi tanaman berbagai jenis ataupun kombinasi antara tanaman dengan element landsekap lainnya. Dalam konteks lingkungan, kesan estetis itu menyebabkan nilai kualitasnya akan bertambah.

  1. Warna

Warna dari suatu tanaman dapat menimbulkan efek visual tergantung pada refleksi cahaya yang jatuh pada tanaman tersebut. Efek psikologis yang ditimbulkan dari warna  seperti telah diuraikan sebelumnya, yaitu warna cerah memberikan rasa senang, gembira serta hangat. Sedangkan warna lembut memberikan kesan tenang dan sejuk. Dan bila beberapa jenis tanaman dengan berbagai warna dipadukan dan dikomposisikan akan manimbulkan nilai estetis.

  1. Bentuk

Bentuk tanaman dapat digunakan untuk menunjukan bentuk 2 atau 3 dimensi, memberikan kesan dinamis, indah, sebagai aksen, kesan lebar dan luas dan sebagainya.

  1. Tekstur

Tekstur suatu tanaman ditentukan oleh: cabang, batang, ranting, daun dan jarak pandang terhadap tanaman tersebut.

  1. Skala
    Skala/proposi tanaman adalah perbandingan tanaman dengan tanaman lain atau perbandingan tanaman lain atau perbandingan tanaman dengan lingkungan sekitarnya.

Tanaman dapat menimbulkan pola bayangan pada dinding, lantai, dan sebagainya, yang akan berubah-ubah bentuknya yang dipengaruhi oleh angin dan waktu, hal ini akan menciptakan suatu pemandangan yang sangat menarik

Pepohonan di perkotaan lama-kelamaan makin jadi barang langka. Nasibnya pun semakin tak jelas. Keberadaannya seringkali terkalahkan oleh reklame, lampu penerangan jalan, jalan, trotoar.Kotajadi panas. Orang teriak butuh pohon. Namun, ketika banyak pohon bertumbangan dan jatuh korban, orang-orang jadi paranoid sama pohon. Rame-rame pohon besar ditebangi. Habis itu, panas… orang-orang pun teriak lagi.. begitu seterusnya.

Dalam kaitannya dengan keberadaan pepohonan di perkotaan, Nirwono Joga menandaskan bahwa wargakotaberhak atas keamanan dan keselamatan publik, juga hak atas kesehatan lingkungan, serta perlindungan dari bencana lingkungan. Pohon-pohon yang bertumbangan akhir-akhir ini banyak yang tak sesuai peruntukannya, tak sesuai pula standard keamanannya. Jelas bahwa pohon pun memerlukan perawatan, pemeliharaan, dan bahkan asuransi.

Dinas-dinas pemerintahkotaterkait sudah seharusnya memiliki standard kerja dan kompetensi dalam pemeliharaan pohon. Mereka bertanggung jawab atas keamanan dan keselamatan pohon. Pendataan dan pemetaan secara rinci, akurat, dan terkini kondisi pohon-pohon di seanterokotayang terakses secara online sudah saatnya diadakan. Jalur komunikasi dua arah bisa tercipta, sehingga laporan terkini kondisi pohon dan tindaklanjut penanganannya bisa secara cepat terlaksana.

Di tempat sekitar kita tinggal atau berdomisili pun, pepohonan yang ada bisa kita petakan. Dalam kawasan yang tak terlalu luas, tanpa harus melulu mengandalkan dinas pemkot yang tentu saja memiliki keterbatasan sumberdaya, komunitas setempat bisa juga melakukan pemetaan pohon-pohon di lingkungan mereka. Jika berkelanjutan, maka hal tersebut akan dengan sendirinya menjadi sebuah sistem pemantauan keamanan dan keselamatan pohon secara swadaya. Bahkan, dengan sistem tersebut, komunitas bisa membantu memberikan informasi kepada dinas terkait.

Sistem ikon Green Map telah menyediakan beberapa ikon yang merepresentasikan keberadaan taman, hutankota, dan pohon istimewa. Kita bisa memperluas definisinya jika memang diperlukan. Bisa juga kita munculkan ikon baru yang berhubungan dengan pohon. Jadi, jika muncul peta hijau tematik pohon, kita bisa tahu mana pohon istimewa, pohon sehat, pohon sakit, dan seterusnya.

Lalu, apa yang bisa kita dapatkan setelah itu semua? Yah, paling tidak kita bisa tahu pohon apa saja yang ada di sekitar kita dan bagaimana kondisinya. Siapa tahu juga kita bisa dapat pengetahuan tambahan mengenai manfaat pohon atau tanaman tertentu. Komunitas setempat bisa memantau kelangsungan hidup si pohon. Jadi, cerita sebuah pohon yang pagi hari masih berdiri tegar dan rindang… tapi, sorenya sudah hilang dan digantikan dengan sebuah warung atau selokan atau pot bunga raksasa… tidak akan banyak muncul lagi. Semoga..

Sekedar ide kecil untuk memperjuangkan kelangsungan hidup umat manusia dan umat pepohonan, tanpa harus mengorbankan salah satunya.

ANALISIS DAN PERANCANGAN TAPAK

Dalam Analisis Perancangan Tapak ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yakni:

  1. Ruang dan Tapak

Disini dibicarakan ruang dalam arti luas,bukan berarti dinding batu yang beratapkan genteng tetapi ruang yang dimaksudkan adalah ruang yang beratapkan langit dan brdinding cakrawala

Adatiga ruang yakni:

1)      Ruang publik (berukuran besar)

2)      Ruang semi publik (berukuran sedang)

3)      Ruang prifat (berukuran kecil)

  1. Perilaku

Perilaku setiap orang berbeda, orang yang bekerja dan orang yang tidak bekerja (santai) cara jalannya saja berbeda dan orang yang bekerja ketempat kerjanya harus mencari jalan yang cepat sedangkan orang yang santai mencari jalan yang panjang dan ramai; Begitu juga dengan tapak dirancang sesuai dengan perilaku user.

Masing-masing perilaku memiliki fasilitas yang berbeda; Misalnya: orang yang bekerja mencari jalan yang cepat sampai ketempat kerja; Sedangkan orang yang santai mencari jalan yang panjang dan ramai. Pengaturan ruang juga sangat bergantung pada perilaku.

  1. Presepsi

Presepsi berkaitan dengan anggapan atau penilaian. Objek bias saja sama namun presepsi/penilaian orang berbeda-beda.

Banyak hal berkaitan dengan presepsi. Orang yang tidak paham tentang keindahan akan menganggap alun-alunkotamalangmerupakan tempat yang sangat indah, namun bagi orang yang paham/mempunyai selera tinggi mungkin akan menganggap alun-alunkotamalangsebagai tempat yang biasa atau menganggap alun-alun sebagai tempat yang semerawut atau jorok karena masih banyak pedagang kakilima(PKL) yang berjualan dikawasan tersebut.

Tapak tidak hanya terbentuk dari suatu elemen saja tetapi terbentuk oleh beraneka ragam komponen ekosistem/elemen. Pada dasarnya komponen ekosistem terbagi menjadi 4 aspek; yakni:

  1. Aspek fisik
  2. Aspek biofisik
  3. Aspek social dan budaya
  4. Aspek ekonomi

Mengapa tapak perlu dianalisis?

Tapak perlu dianalisis guna mencapai tiga tujuan yang mendasar, yakni:

  1. Untuk memahami berbagai komponen ekosistem secara terpisah, kemudian kita mengaitkan antara komponen-komponen ekosistem yang terpisah tersebut.

Contoh: jenis tanah akan berpengaruh terhadap kesuburan tanaman.

  1. Memahami keterkaitan antara komponen yang satu dengan komponen yang lainnya.

Iklim sangat berkaitan dengan vegetasi. Pada daerah subtropis vegetasinya berbeda dengan vegetasi pada daerah tropis.

Jumlah air akan berpengaruh pada jumlah vegetasi dan jenis tanaman berpengaruh terhadap jumlah air. Pada tanah yang liatnya banyak maka ketersediaan air akan cepat habis karena tanah yang litanya banyak tidak dapat menyerap air sehingga air akan mengalir ketempat lain.

  1. Untuk menentukan tingkat kesesuaian komponen tersebut. Tingkat kesesuaian ini mempunyai makna bahwa dana yang digunakan lebih kecil dibandingkan hasil atau keuntungan yang diperoleh.

Pada dasarnya untuk memilih tapak ada 2 model, yakni:

1)      Lokasi yang bersifat umum atau tapak terletak pada lokasi yang bersifat umum.

Untuk menentukan model tapak yang cocok harus dilihat dari aspek fisik,biofisik.sosial dan ekonomi.

2)      Tapak sudah tersedia, maka harus dilakukan analisis. Jika terdapat kekurangan pada tapak maka dilakukan modifikasi. (tingkat kesesuaianya tidak sangat sesuai).

Ketika kita memulai analisis data-data yang perlu diambil melalui inventarisasi. Pada arsitektur landsekap pengambilan data melalui survei, yakni mengambil data-data pada tapak.

v  Aspek fisik

Jenis tanah berkaitan dengan kesuburan tanaman, maka harus:

  • Memperhatikan jenis tanah.
  • Memperhatikan drainase.
  • Topografi
  • Kedalaman lapisan tanah.
  • Kesuburan tanah.
  • Aspek-aspek yang perlu diperhatikan.

v  Aspek biofisik

  • Aspek yang nampak kita lihat tetapi hidup yang dapat tumbuh dan berkembang; Misalnya: vegetasi, satwa (satwa darat,air dan udara).

Perlu diketahui jumlah vegetasi/satwa dan umur vegetasi/satwa.

  • Aspek biofisik yang menarik dan tidak menarik tergantung pada presepsi.
  • Vegetasi/satwa yang berpotensi baik dapat digunakan sebagai icon.

v  Aspek sosial-budaya

Berkaitan dengan manusia. Tapak dapat dikembangkan sesuai dengan social-budaya.

Contohnya: taman-taman bali dibuat sesuai dengan social-budaya pada pulau bali itu sendiri.

Mata pencarian penduduk menjadi penting karena jika kita membangun kawasan wisata, kita dapat memanfaatkan matapancarian penduduk.

Misalnya: kita dapat memanfaatkan mata pencarian penduduk sebagai souvenir.

v  Aspek vocal formal

Berkaitan dengan penggunaan tapak/RUTRK (Rencana Umum Tata Ruang Kota) telah membagi kawasan-kawasan tapak sesuai dengan fungsinya.

Contohnya: kawasan ijen digunakan sebagai RTH dan kawasan pendidikan.

v  Aspek ekonomi

Terkait dengan ketersediaan, baik dari membangun maupun pemeliharaan.

Unsur-unsur perancangan AL

  1. tekstur

tekstur menunjukan karakter halus atau kasar dari suatu permukaan elemen taman, baik elemen lunak maupun elemen keras.

Tekstur halus menunjukan kesan resmi yang elegan.

Tekstur kasar mengekspresikan kesan kuat dan kokoh.

 

Pada tanaman terutama tekstur daun juga menunjukan karakter kasar maupun halus.

Contoh:

  • Tekstur halus ditunjukan pada daun beringin,flamboyan,trembesi,asam jawa, dll.
  • Tekstur kasar ditunjukan pada daun ketapang, mangga, nangka, karet dll.

 

Tekstur batang juga mempermainkan tekstur kasar maupun tekstur halus; misalnya: pada batang pohon jambu menunjukan tekstur halus sedangkan pada batang pohon pinus menunjukan tekstur kasar.

Tekstur kasar cenderung memberikan kesan mempersempit ruang. Oleh karena itu ruang yang kecil hendaknya menggunakan tekstur halus.

Pemilihan elemen lunak maupun keras dilakukan dengan komposisi seimbang terhadap kondisi tapak.

 

  1. Aroma

Aroma berkaitan dengan bau. Bau yang tidak sedap seringkali tidak diinginkan, sehingga untuk menghindari hal tersebut maka kita memasang tabir/screen yang berupa tanaman atau tembok pembatas.

Untuk menetralisir bau yang tidak sedap biasanya dengan tanaman; misalnya: tanaman orang aring,melati,kenanga dll.

Menghadirkan aroma yang baik/sedap dilakukan dengan cara mengatur sirkulasi udara (memantulkan arah angin).

 

 

  1. motif/gaya

motif/gaya merupakan susunan elemen dua/tiga dimensi yang membentuk suatu ragam/pola tertentu, tatanan dari beberapa elemen dalam suatu ruangan tertentu juga merupakan bukti berkaitan dengangaya atau motif  yang dikenal dengangayaformal dan informal.

Gayaformal seringkali dirancang dari garis-garis geometric yang sistematik; sedangkangayainformal mengilustrasikan kondisi alam/meniru alam.

 

  1. Suara/bunyi

Suara merupakan elemen design penting yang terdiri dari:

v  Suara mengganggu yaitu suara yang tidak diingikan; misalnya: suara kendaraan bermotor, gadu dsb.

v  Suara yang tidak mengganggu yaitu suara yang diinginkan; misalnya: suara gemercik air, hembusan angina, suara hewan/burung/jengkrik dsb.

Untuk mengurangi suara mengganggu tersebut maka kita harus menggunakan tabir/screen.

 

  1. Ruang dan Waktu

ü  Ruang:

Ruang dalam arti unsur design adalah suatu tempat yang terbentuk oleh adanya jarak diantara elemen-elemen taman (lunak maupun keras).

Dalam perancangan ruang perlu diperhatikan karena eratnya dengan sirkulasi. Pada taman-taman aktif ruang harus dirancang sendiri, sedangkan pada taman-taman pasif ruang merupakan suatu kelengkapan dari design.

NB: urutan yang benar adalah:

Park (skala kecil) – Garden (skala sedang) – landscape (skala besar)

 

 

 

 

ü  waktu

Dalam merancang sesuatu harus diperhitungkan dengan waktu. Waktu sangat berkaitan erat dengan ruang; ruang yang terbentuk berkaitan dengan elemen lunak dan keras.

Akibat pengurangan Ruang Terbuka Hijau (RTH)

Akibat pengurangan RTH akan berdampak pada terjadinya banjir dan global warming.

RTH bisa meliputi:

  •   Kawasan rel kereta api
  •   Saluran air (sungai)
  •   Jalan raya
  •   Lahan pertanian

Ruang Terbuka Hijau perlu dikelolah secara baik dengan tujuan untuk mengurangi dampak negativ  dari banjir dan global warming tersebut.

RTH yang baik bagi kehidupan minimal 20% dari luas wilayah.

Salah satu  manfaat dari tanaman adalah ESTETIS, karena tanaman indetik dengan Estetika. Yang menampilkan nilai estetika dari tanaman adalah bunga, buah, daun, batang, dan batang pun dapat menampilkan nilai estetika. Keindahan bukan hanya dari kasat mata, tetapi juga dari nilai.

 

Fungsi Penghijauan/Tanaman:

  • Sebagai Konservasi → mencegah bahaya kehancuran tanah (seperti: banjir, tanah longsor, kekeringan).
  • Sebagai Hidrologis → menyanggah air agar sumber air tanah menjadi banyak karena tingkat penguapan berkurang.
  • Sebagai Klimatologis → berkaitan dengan suhu udara, cura hujan, sinar matahari dan kelembaban. Dengan adanya tanaman suhu udara dapat diredam, menghalang sinar matahari yang sangat terik, dan dapat meningkatkan kelembaban sesuai dengan kebutuhan manusia untuk hidup.
  • Sebagai tempat tinggal/habitat bagi beraneka ragam satwa.
  • Sebagai Ekologis →tanaman merupakan bagian dari ekosistem; oleh karena itu keberadaan tanaman menjadi mutlak.
  • Sebagai Hygenis → karena tanaman mempunyai stomata maka tanaman dapat menyerap CO2/polutan dan mengubahnya menjadi H2O.
  •  Sebagai Edukatif  → yaitu dapat menjadi tanaman koleksi bagi pendidikan dan juga dapat menjadi tanaman obat bagi keluarga (TOGA).

 

Untuk memperbaiki iklim mikro maka tanaman menjadi sangat perlu, karena tanaman mempunyai peranan yang sangat penting bagi ekosistem maka tanaman perlu diperhatikan/lebih dilindungi.

Mengapa satwa dalam landscape harus dipertahankan? Karena satwa merupakan keindahan dari landscape.